Sejumlah komunitas budaya di Kabupaten Langkat menemukan tiga makam tua berciri nisan Aceh saat lawatan budaya bersama Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Utara, Senin 13 April 2026.
Kegiatan ini dilakukan untuk menelusuri jejak leluhur dengan pendampingan Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Utara. Tim lawatan memusatkan kegiatan di wilayah Kecamatan Pangkalan Susu, tepatnya di Desa Pangkalan Siata.
Adapun komunitas yang terlibat dalam kegiatan ini antara lain Jaringan Akar Budaya Nusantara (JANUR) dan Media Sejarah Langkat. Lalu Yayasan Garis Pusaka Aru serta Petuah Tenggara.
Di kawasan Tanjung Keramat, Desa Pangkalan Siata, tim berhasil menemukan dua makam tua yang memiliki ciri khas nisan bergaya Aceh. Sementara di Kelurahan Beras Basah, tim menemukan satu makam.
Berdasarkan pengamatan awal, nisan-nisan tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-15 hingga ke-17.
Temuan ini memperkuat dugaan adanya pengaruh budaya Aceh dan jejak perkembangan peradaban di kawasan pesisir Langkat pada masa lampau.
Memperkaya Pengetahuan Sejarah

Perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Utara, Jauhar Abdillah mengapresiasi kolaborasi lintas komunitas ini. Ia menegaskan identifikasi dan dokumentasi situs bersejarah dilakukan guna memperkaya pengetahuan sejarah lokal dan menjaga keberlanjutan warisan budaya.
“Melalui kegiatan ini, kita ingin memastikan bahwa jejak-jejak leluhur yang tersisa dapat dikenali, dicatat, dan dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat,” ujarnya.
Selain mendata tipologi nisan, tim juga aktif menggali informasi dari masyarakat setempat terkait sejarah dan asal-usul makam. Pendekatan ini dinilai penting untuk menguatkan data lapangan dengan narasi sejarah lisan yang selama ini berkembang di tengah masyarakat.
Perwakilan komunitas budaya, Hidayat Syahputra, menegaskan kegiatan ini bukan sekadar penelusuran, tetapi bentuk tanggung jawab generasi muda terhadap warisan leluhur.
Membaca Kembali Sejarah

“Lawatan ini bukan hanya melihat makam tua, tetapi membaca kembali sejarah yang hampir terlupakan. Kami ingin generasi muda memahami bahwa Langkat memiliki jejak peradaban besar yang harus dijaga bersama,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi antar komunitas menjadi kunci dalam menghidupkan kembali kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya pelestarian budaya.
Melalui lawatan budaya ini, para peserta berharap pelestarian situs bersejarah di Langkat dapat semakin terarah sekaligus mendorong penguatan identitas budaya lokal di tengah masyarakat.
Selain itu, kegiatan ini juga membuka peluang bagi penelitian lanjutan serta pengembangan kawasan sebagai destinasi edukasi sejarah berbasis budaya lokal.







