https://suarain.com/category/berita/
BERITA  

Hampir 7 Tahun Jadi Mitra BKSDA, KTH di SM KGLTL Baru Tumbang 3 Hektare Sawit

Iklan Pemilu

Capaian kinerja kelompok tani hutan (KTH) Indah Bersama dan Tumbuh Subur di Kecamatan Tanjung Pura, Langkat, terus menuai pertanyakan.

Pasalnya berdasarkan informasi yang diperoleh, kedua KTH tersebut telah menjadi mitra Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah II Stabat sejak 2019 lalu.

Namun pada capaiannya, komunitas ini baru memusnahkan 3 hektar tanaman sawit di kawasan konservasi.

Kewajiban KTH di kawasan Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut (SM KGLTL), untuk pemulihan kawasan tersebut terkesan diabaikan kelompok.

Hal itu terlihat dari upaya pemusnahan tanaman sawit di areal tersebut baru dilakukan beberapa bulan terakhir.

Ditambah ratusan hektar hamparan tanaman sawit di kawasan SM KGLTL, justru tampak dirawat oleh KHT tersebut selama bertahun-tahun.

Padahal, beberapa waktu lalu Kepala Seksi BKSDA Wilayah II Stabat Bobby Nopandry menegaskan, bahwa aktivitas perkebunan di kawasan tersebut adalah ilegal.

Saat kembali ditanyakan progres pemulihan kawasan tersebut oleh kedua kelompok, Bobby mengatakan baru menyusun Rencana Kerja Tahunan (RKT).

“Baru susun RKT, berprogres sementara ini, bg,” ujarnya Selasa 29 September 2026 sore via pesan WhatsAppnya.

Baca Juga  Hutan di Rusak, Kadis LHK Sumut dan Bupati Langkat ‘Stecu’

Selanjutnya, Bobby juga merinci luas kawasan yang telah dieksekusi oleh kedua kelompok hutan tersebut.

“Indah bersama tumbang sawit 3 ha, agroforestry (kebun campur) sekitar 80 ha. Tumbuh Subur bulan ini suntik 3 ha, areal yang dibiarkan berhutan 100 ha,” jelasnya.

Bobby juga menegaskan, KTH tersebut menjadi mitra BKSDA Wilayah II Stabat sejak 2019 sampai 2029.

“Sejak 2019 sampai dengan 2029 nanti bg,” ungkap Bobby.

Aktivis Lingkungan, Gerah

Plang di Kawasan Konservasi SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut, Langkat

Hampir tujuh tahun menjalankan kemitraan dengan BKSDA Wilayah II Stabat, capaian pemulihan kawasan oleh kedua KTH tersebut masih menjadi sorotan.

Minimnya luasan sawit yang ditumbang memunculkan pertanyaan tentang efektivitas kemitraan, pengawasan, serta tindak lanjut pemulihan SM KGLTL.

Menanggapi hal ini, aktivis lingkungan Sumiati Surbakti merasa gerah. Ia menilai, jika pemerintah hadir dan benar-benar melaksanakan fungsinya, kerusakan hutan di SM KGLTL tentunya bisa berangsur-angsur pulih.

“Hal ini harus diusut tuntas. Sudah menjalin kemitraan nyaris 6 tahun kok baru 3 hektar sawit yang ditumbang. Kalau BKSDA tegas, KTH juga gak akan berani macam-macam,” ketus Direktur Yayasan Srikandi Lestari ini.

Baca Juga  Gerombolan Preman Berkelewang Jarah Perkebunan Sawit, Warga Gagal Panen

Wanita berkacamata yang akrab disama Mimi ini menduga, adanya ‘main mata’ antara oknum BKSDA dengan pihak KTH tersebut. Ia mendesak, agar hal ini menjadi perhatian serius pihak terkait seperti Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH).

“Kenapa sudah ramai diberitakan baru ada aksi. Padahal, pihak internasional seperti KfW rutin mengucurkan dana untuk merestorasi kawasan konservasi itu. Kok malah kita pula yang bermain,” tegasnya.

Sementara, pihak KTH Indah bersama dan Tumbuh Subur beberapa kali dilakukan konfirmasi hingga saat ini belum memberikan keterangan, apapun terkait hal itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *