https://suarain.com/category/berita/
BERITA  

Banjir Bandang Tapanuli, Direktur APPRI: Bencana Ini Bukan Kebetulan ‎

Direktur Aliansi Pemuda Peduli Rakyat Indonesia (APPRI), Jamil Dar Harahap
Iklan Pemilu

‎Luapan Sungai Batang Toru membawa batu-batu besar dan gelondongan kayu raksasa dari hulu menyapu 3 kabupaten di kawasan Tapanuli. Akibatnya bandang dan tanah longsor meluluhlantakan Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Selatan.

Sungai Batang Toru yang menjadi nadi kehidupan masyarakat Tapanuli, kini berbalik membawa. Habitat terakhir orangutan Tapanuli turut merima dampaknya.

‎Tragedi tersebut pun mendapat sorotan tajam, Direktur Aliansi Pemuda Peduli Rakyat Indonesia (APPRI), Jamil Dar Harahap. Menurutnya bencana yang terjadi bukanlah suatu kebetulan semata. Melainkan kerusakan ekologis Batang Toru menjadi penyebab utama.

‎”Ini bukan sekadar bencana alam biasa akibat curah hujan tinggi. Ini adalah bencana ekologis yang dapat diprediksi,” terang Jamil, Kamis, 27 November 2025.

‎Jamil mengungkap dalam satu Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru seluas ±163 ribu hektare, terdapat tiga proyek ekstraktif bersekala besar. Ketiganya berada dalam radius kurang dari 50 km, sehingga mengakibatkan hilangnya puluhan hektare tutupan hutan primer.

‎Jamil memaparkan laporan Global Forest Watch and Auriga Nusantara tahun 2025, deforestasi dan degradasi di DAS Batang Toru mencapai 50 ribu hingga 75 hektar dalam 10–15 tahun terakhir.

‎Hutan primer yang berfungsi sebagai “spons raksasa” penyerap air kini lenyap. Akibatnya, curah hujan langsung menjadi aliran permukaan yang memicu banjir bandang dan longsor berulang.

‎Jamil menyebut semua proyek raksasa itu mengantongi izin resmi. Namun pemerintah menerbitkannya secara terpisah tanpa kajian dampak kumulatif yang memadai. Artinya terdapat pelanggaran prinsip dasar pengelolaan lingkungan hidup.

‎”Bencana ini bukan kebetulan. Ini adalah harga yang harus dibayar ketika kepentingan ekonomi jangka pendek mengalahkan daya dukung alam dan keselamatan warga,” tegas Jamil.

Baca Juga  Polisi Bekuk Dua Pelaku Pencurian Uang KPU Langkat Sebesar Rp 150 Juta

PSN dan Tambang Merusak Hutan

(Kiri) Tambang Emas Batang Toru di Kabupaten Tapanuli Selatan – Glondongan Kayu Terbawa Arus Air Sungai Batang Toru (Kanan)

‎Selanjutnya Jamil membeberkan catatan WALHI dan KLHK 2024–2025 terhadap PLTA Batang Toru. Proyek Strategis Nasional ini telah menebang langsung 90–122 hektare hutan primer. Ditambah ribuan hektare terdampak tidak langsung akibat jalan akses dan terowongan

‎Tidak hanya itu, pada tahun 2025. Mongabay dan WALHI mencatat kerusakan akibat tambang Emas Martabe. Keduanya melaporkan PT Agincourt Resources merusak 114 hektare lebih hutan melalui penambangan open-pit. Beserta fasilitas tailing yang terus berekspansi di hulu sungai.

‎Selanjutnya, berdasarkan catatan WALHI Sumut tahun 2025 ada sekitar 37 ribu hektar hutan alam di hulu Batang Toru telah dan akan dikonversi menjadi kebun eukaliptus monokultur oleh PT Toba Pulp Lestari (TPL) atas Konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI).

‎Atas pijakan tersebut, Jamil menyimpulkan bencana yang terjadi di kawasan Tapanuli bukanlah, secara kebetulan atau fenomena alam. Melainkan kesalahan pengelolaan alam yang dibiarkan sehingga menimbulkan kerusakan dan mengakibatkan bencana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *