Minimnya infrastruktur darat serta terbatasnya akses transportasi medis di sejumlah wilayah pesisir terluar di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, menjadi sorotan. Kondisi ini membuat masyarakat kesulitan memperoleh layanan kesehatan, terutama dalam situasi darurat yang membutuhkan penanganan cepat.
Potret itu tergambar dari perjuangan seorang bidan desa di Desa Pangkalan Siata, Kecamatan Pangkalan Susu. Ia mempertaruhkan keselamatannya demi menyelamatkan seorang pasien melalui jalur laut.
Berdasarkan rekaman video amatir yang beredar dan diperoleh. Diketahui Bidan Desa, Vera Leli Septiana Manulang mengevakuasi warga menggunakan perahu kayu sederhana.
Romaida Br Saragih terpaksa dibawa ke rumah sakit setalah mengalami sesak napas, kadar gula darah tinggi, dan kondisi tubuh yang semakin lemah.
Keterbatasan akses jalan darat memaksa petugas medis mengevakuasi Romaida melalui jalur laut menggunakan perahu kayu sederhana.
Di tengah perjalanan, cuaca ekstrem melanda, sekitar pukul 17.00 WIB pada Kamis, 30 Juli 2026, perahu dihantam ombak hingga terseret ke perairan dangkal dan akhirnya kandas.
“Boat yang kami tumpangi dihantam ombak hingga terbawa ke lokasi yang dangkal. Akibatnya boat kandas dan tidak bisa bergerak,” jelas Vera, Jumat, 31 Juli 2026.
Dalam kondisi tersebut, Vera bersama keluarga pasien turun dan mendorong perahu agar kembali mengapung. Namun upaya itu gagal karena air laut tiba-tiba surut.
“Kami turun untuk mendorong boat, tetapi tiba-tiba air mengering. Situasinya sangat darurat,” tambahnya.
Hujan dan terkendala sinyal telepon pun menambah kepanikan. Menurut Vera, komunikasi dengan layanan darurat 110 tidak berjalan lancar karena terkendala sinyal dan suara yang tidak terdengar jelas.
Ia kemudian meminta keluarga pasien menghubungi Kepala Puskesmas Pangkalan Susu untuk meminta bantuan.
Karena tidak memungkinkan menunggu air pasang. Vera bersama keluarga pasien terpaksa mengangkat pasien dan berjalan kaki.
“Kami mengangkat pasien dan berjalan hampir satu jam menuju lokasi air yang lebih dalam untuk bertemu boat penjemput. Katanya boat itu dikirim atas perintah Kepala Puskesmas,” ungkapnya.
Perjuangan Bidan Desa

Setelah melalui perjuangan yang penuh risiko, pasien akhirnya berhasil tiba di Dermaga Pangkalan Susu sekitar pukul 19.00 WIB.
Sebuah ambulans yang telah disiagakan kemudian membawa pasien ke Rumah Sakit Mahkota Bidadari.
“Sebelumnya saya sudah menghubungi pihak rumah sakit dan meminta ambulans gratis karena pasien berasal dari keluarga kurang mampu,” ujar Vera.
Selanjutnya, Vera mengatakan pasien dirujuk ke rumah sakit yang berlokasi di Kecamatan Gebang itu, sebab sebelumnya sempat menjalani perawatan di sana.
Vera menjelaskan, sebelum dirujuk ia terlebih dahulu memberikan pertolongan pertama kepada pasien. Infus dipasang untuk menjaga kondisi pasien agar tidak semakin menurun selama perjalanan.
“Awalnya pasien menolak dirujuk dan ingin dirawat di Puskesdes. Saya tetap menyarankan dirujuk, tetapi karena pasien meminta ditangani terlebih dahulu, saya memberikan pertolongan pertama,” ujar Vera.
Perjuangan tersebut juga berdampak pada kondisi Vera. Ia kini turut menjalani perawatan di rumah sakit yang sama setelah mengalami kelelahan, dan luka pada bagian kaki akibat proses evakuasi.
Peristiwa ini menjadi gambaran nyata masih terbatasnya akses transportasi medis di wilayah pesisir Kabupaten Langkat.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa masyarakat di wilayah pesisir Langkat masih menghadapi keterbatasan akses layanan kesehatan darurat.
Di sisi lain, tenaga kesehatan harus bekerja dengan segala keterbatasan demi memastikan pasien tetap memperoleh pertolongan.







