Getaran senar gitar, denting musik etnik, dan lantunan puisi memenuhi ruang pertunjukan di Taman Budaya Sumatera Utara, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Dengan tajuk “Senar Suara” Jerangan Indonesia seolah mempertemukan kembali kebudayaan rumahnya.
Setiap alunan nada dan bait puisi mengajak penonton menyelami kembali akar-akar kemanusiaan, alam, cinta, kampung halaman, hingga refleksi tentang bangsa dan masa depan.
Malam itu, para musisi dan penyair berkolaborasi menghadirkan sejumlah karya. Mulai dari Hujan Bulan Juni, Metafor Garis Langit, Ia, Menyapu Halaman di Antara Rerimbunan Pohon, Penjual Sayur di Trotoar Rembulan, Apa Ada Angin di Jakarta, Matahari Raya, Salam dari Desa, Taman Dunia, hingga Keroncong Pertemuan.
Bagi para penonton, “Senar Suara” bukan sekadar pertunjukan seni. Ia menjadi ruang kontemplasi yang menghubungkan ingatan masa lalu dengan harapan masa depan.
Salah seorang penonton, Rizky mengaku pertunjukan tersebut memberinya pengalaman yang berbeda dibandingkan hiburan yang biasa dinikmatinya.
“Jerangan Indonesia seperti mengajak saya pulang ke dalam diri sendiri. Di tengah begitu banyak informasi yang lewat setiap hari, malam ini saya justru menemukan ketenangan. Puisi dan musiknya sederhana, tetapi pesannya sangat dalam,” ujarnya.
Nabila menyampaikan hal serupa. Menurut mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Medan ini, musikalisasi puisi mampu menghadirkan suasana yang hangat sekaligus menggugah kesadaran.
“Biasanya puisi terasa jauh bagi anak muda. Tapi, perpaduan puisi dan musik seperti ini, pesannya jadi lebih dekat dan mudah dirasakan. Ada rasa haru, ada kerinduan, dan ada kebanggaan terhadap budaya kita,” katanya.
Ruang Perjumpaan Kebudayaan

Suasana pertunjukan semakin khidmat, saat Jerangan membawa karya-karya yang berbicara tentang manusia, tanah air, tradisi, dan berbagai persoalan sosial yang tengah dihadapi masyarakat.
Perwakilan Jerangan Indonesia, Ilham Khupi menyebut gelaran tersebut merupakan bagian dari upaya merawat ekosistem kebudayaan sekaligus menghadirkan ruang perjumpaan bagi para seniman, penyair, musisi, dan masyarakat umum.
“Kami percaya kebudayaan harus terus dirawat melalui ruang-ruang perjumpaan. Musikalisasi puisi menjadi salah satu cara untuk mempertemukan karya sastra dengan publik yang lebih luas,” ujarnya.
Menurutnya, di tengah zaman yang serba cepat, seni memiliki peran penting untuk menjaga keseimbangan batin masyarakat.
“Kebudayaan tidak selalu harus tampil megah. Kadang ia hadir dalam petikan senar yang sederhana, dalam suara yang jujur, dan dalam puisi yang dibacakan dengan sepenuh hati. Di situlah kekuatannya,” tambahnya.
Gelaran “Senar Suara” menjadi bukti bahwa puisi tidak harus tinggal di halaman buku. Melalui musikalisasi, kata-kata yang sebelumnya dibaca dalam kesunyian berubah menjadi pengalaman kolektif yang dapat dirasakan bersama.
Tepuk tangan panjang yang mengiringi penutupan acara menjadi penanda bahwa seni dan kebudayaan masih memiliki tempat di hati masyarakat.
Di tengah hiruk-pikuk dunia digital, “Senar Suara” menunjukkan bahwa ruang-ruang kebudayaan masih mampu menarik orang untuk berkumpul, mendengar, dan merasakan.
Malam itu, Jerangan Indonesia tidak sekadar menyuguhkan tontonan di panggung Taman Budaya Sumatera Utara. Lebih dari itu, mengingatkan publik bahwa bangsa ini dibangun bukan hanya oleh kemajuan teknologi. Melainkan juga oleh ingatan, imajinasi, rasa, dan suara-suara kebudayaan yang terus menjaga nyala kemanusiaan.







