Ribuan warga yang berhimpun dalam Aliansi Masyarakat Menuntut Keadilan berunjuk rasa di Kantor DPRD Kabupaten Langkat, Senin 20 April 2026 pagi. Massa merupakan korban banjir di Langkat pada November 2025 lalu.
Kedatangan mereka menuntut agar pemberian bantuan bagi korban banjir dilakukan secara merata. Sebagai korban banjir warga menilai bantuan penyaluran mengabaikan rasa keadilan.
Mereka berjalan berbaris rapi dan tertib dengan membentangkan berbagai poster tuntutan dan aspirasi warga.
“Jangan Abaikan Kami, Kami Juga Korban Banjir,” tertulis pada poster yang mereka bentang.
Saat massa aksi menyampaikan aspirasi dan tuntutan melalui perwakilan menggunakan pengeras suara. Anggota DPRD Langkat dari fraksi PKS mendatangi massa aksi dan meminta untuk melakukan dialog secara keterwakilan.
Selanjutnya perwakilan massa dan anggota DPRD Langkat di antaranya Romelta Ginting, Eddy Wijaya, dan Donny Setha berdialog di Ruang Badan Musyawarah (Banmus).
Namun pertemuan tersebut tampak tidak membuahkan hasil. Warga menganggap para wakil rakyat tidak mampu memberikan solusi atas permasalahan mereka.
Alhasil perwakilan massa memilih membubarkan diri dan meninggalkan ruangan Bamus dengan rasa kecewa.
Kepada awak media, Koordinator aksi, Andika Ardiansyah mengatakan pihaknya meminta DPRD Langkat berkoordinasi dengan Kementerian Sosial RI terkait penyaluran bantuan bagi korban banjir. Terutama bagi warga Kecamatan Besitang, Sei Lepan dan Brandan Barat serta daerah terdampak lainnya.
Andika menyebut bantuan meliputi stimulan ekonomi sebesar Rp 5 juta, bantuan perabotan senilai Rp 3 juta. Lalu jaminan hidup (jadup) sebesar Rp1.350.000 per jiwa dengan hitungan Rp 15 ribu per hari selama satu bulan.
Namun menurutnya penyaluran tidak merata, bahkan Andika menyebut ada warga yang tidak menjadi korban banjir malah menerima bantuan.
Desak Berjumpa Bupati Hingga Pintu Pagar Roboh
Usai berdialog dengan DPRD, warga melanjutkan aksinya di Kantor Bupati Langkat. Di sana, ribuan massa memaksa masuk hingga aksi saling dorong antara warga dan petugas pengamanan tidak terhindarkan hingga merobohkan pintu pagar.
Massa terus meringsek masuk sehingga membuat petugas Satpol PP kewalahan, tidak mampu membendung desakan warga.
Massa aksi bersikeras masuk untuk menemui Bupati Langkat, Syah Afandin, guna menyampaikan langsung aspirasi dan tuntutan mereka.
Namun, berdasarkan informasi yang diperoleh, Syah Afandin sedang berada di Jakarta.
Kendati begitu, massa aksi tetap menuntut agar Bupati Langkat menemui mereka, hingga mendapatkan solusi konkret.
Kemudian, Kapolres Langkat melakukan panggilan video dengan Bupati Langkat di tengah kerumunan massa.
Dalam panggilan tersebut, Bupati mengatakan sedang berada di Jakarta dan berjanji akan segera kembali ke Langkat guna menemui warga.







